MATARAM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus berinovasi dalam memperkuat ketangguhan daerah menghadapi ancaman bencana. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, pemerintah resmi menyosialisasikan Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) bertajuk aplikasi "SiAGA NTB" di Prime Park Hotel & Convention Mataram, Rabu (22/4/2026).
Kegiatan yang mengusung tema "Siap untuk Selamat: Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana" ini dihadiri oleh jajaran petinggi TNI-Polri, instansi vertikal, serta perangkat daerah terkait. Hadir di antaranya Asisten III Setda Prov. NTB H. Efa Deliani, Kalak BPBD NTB Sadimin, serta perwakilan dari Korem 162/WB, Polda NTB, Lanal Mataram, dan Lanud Zam.
Dalam sambutannya mewakili Gubernur NTB, H. Efa Deliani menekankan bahwa aplikasi SiAGA NTB merupakan langkah strategis hasil kolaborasi BPBD, Diskominfotik, dan mitra program Siap Siaga. Transformasi dari sistem berbasis situs web ke aplikasi mobile versi 2.0 ini bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan kecepatan informasi di tangan masyarakat.
"Platform digital ini bukan sekadar aplikasi, melainkan instrumen penting dalam pengurangan risiko bencana. Masyarakat kini bisa memantau peringatan dini dan melaporkan kejadian secara real-time dengan dukungan koordinat GPS dan foto lapangan," ujar Efa Deliani.
Aplikasi ini juga dirancang inklusif agar dapat diakses oleh kelompok disabilitas dan relawan, serta mendukung program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Fitur Unggul: Integrasi Data dan Pemulihan Pascabencana
Salah satu keunggulan utama dari SiAGA NTB versi terbaru adalah fitur pascabencana (R3P). Fitur ini mencakup layanan rehabilitasi, rekonstruksi, hingga dukungan kesehatan mental dan pemulihan ekonomi bagi warga terdampak.
Untuk menjamin validasi data, sistem ini telah terintegrasi langsung dengan basis data Dukcapil dan Dinas Sosial. "Integrasi ini sangat krusial agar keputusan yang diambil tepat sasaran, terutama dalam pendataan korban dan penyaluran bantuan," tambah Efa.
Kalak BPBD NTB, Sadimin, S.T., M.T., dalam laporannya menjelaskan bahwa sosialisasi ini menyasar operator Pusdalops, perangkat daerah, dan elemen masyarakat. Tujuannya adalah membangun kapasitas kesiapsiagaan berbasis komunitas yang kolaboratif.
"Kami ingin menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Dengan informasi yang cepat dan efektif, kita bisa mewujudkan NTB yang tangguh dan mandiri dalam menghadapi bencana," jelasnya.
