Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Negeri Seremoni, Miskin Inovasi, Juara Korupsi

Negeri Seremoni, Miskin Inovasi, Juara Korupsi
Hery Purnobasuki 
Guru Besar FST Universitas Airlangga 
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga

Indonesia seolah tak pernah kehabisan panggung. Dari upacara bendera yang megah hingga peluncuran aplikasi yang hanya bisa dibuka di hari peluncuran, kita mahir merangkai seremoni. Sayang, di balik gemerlap acara, inovasi sering kali hanya jadi pajangan di spanduk, sementara korupsi tetap jadi juara bertahan yang tak tergoyahkan. 

Panggung Tanpa Lakon

Negeri ini punya bakat luar biasa dalam menggelar acara. Ada seminar nasional tentang inovasi, ada pula lokakarya internasional anti-korupsi yang pesertanya lebih banyak foto daripada diskusi. Undangan mewah, konsumsi berlimpah, dan pidato berapi-api menjadi menu wajib. Namun, begitu lampu panggung padam, ide-ide brilian ikut mati. 

Budaya seremonial ini bukan sekadar hobi, melainkan gaya hidup birokrasi. Anggaran seremonial yang besar sering kali lebih mudah dikucurkan daripada anggaran riset atau pengembangan teknologi. Alasannya sederhana: seremoni lebih mudah dipertanggungjawabkan secara administratif, meski dampaknya nol besar. Sementara itu, inovator sejati harus berjuang keras mendapatkan dana, bahkan untuk membeli reagen laboratorium atau membayar server komputasi. 

Inovasi yang Hanya di Brosur

Indonesia memang rajin meluncurkan program inovasi. Ada smart city, ada kampung inovasi, ada pula gerakan 1.000 startup. Semua terdengar keren di atas kertas. Namun, realitasnya sering berbeda. Aplikasi yang diluncurkan dengan gegap gempita ternyata hanya bisa diakses oleh panitia peluncur. Startup yang mendapat penghargaan ternyata lebih banyak menghabiskan waktu untuk pitching daripada membuat produk. 

Indeks Inovasi Global menempatkan Indonesia di posisi yang memalukan. Pada 2024, Indonesia berada di peringkat 54 dari 133 negara dengan skor 30,6. Angka ini masih jauh di bawah Singapura yang menempati peringkat pertama dengan skor 67,5. Di ASEAN pun, Indonesia tertinggal dari Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari sistem yang tidak mendukung kreativitas. 

Korupsi menjadi salah satu penyebab utama mandeknya inovasi. Dana riset yang seharusnya digunakan untuk eksperimen sering kali menguap di tengah jalan. Peneliti berbakat lebih memilih menjadi makelar proyek daripada menghabiskan waktu di laboratorium. Akibatnya, Indonesia lebih banyak mengimpor teknologi daripada menciptakannya. Kita menjadi konsumen, bukan produsen. 

Korupsi: Olahraga Nasional yang Tak Pernah Kalah

Jika ada olimpiade korupsi, Indonesia pasti jadi tuan rumah sekaligus juara umum. Predikat ini bukan isapan jempol belaka. Transparency International sejak lama menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling korup di dunia. Pada 2016, Indonesia berada di peringkat 90 dari 176 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi. Di G20, posisi Indonesia hanya satu tingkat di atas Rusia dan Meksiko. 

Korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar kejahatan, melainkan budaya. Dari proyek infrastruktur yang mark-up hingga bantuan sosial yang dikorupsi, semua dilakukan dengan gaya yang semakin kreatif. Ironisnya, korupsi justru dianggap sebagai bentuk inovasi dalam menghadapi tekanan struktural. Ketika target kinerja tidak realistis dan akses terhadap sarana sah terbatas, korupsi menjadi jalan pintas yang logis. Yang lebih parah, korupsi tidak hanya terjadi di level tinggi. Dari desa hingga kementerian, semua punya cara masing-masing. Ada yang korupsi waktu dengan datang terlambat, ada pula yang korupsi anggaran dengan membuat kegiatan fiktif. Bahkan, seremoni anti-korupsi pun tidak luput dari praktik koruptif. 

Lingkaran Setan Seremoni dan Korupsi

Seremoni dan korupsi ibarat dua sisi mata uang yang sama. Seremoni membutuhkan anggaran besar, dan anggaran besar membuka peluang korupsi. Kegiatan seremonial yang berlebihan tidak hanya membuang uang, tetapi juga mengalihkan perhatian dari masalah nyata. Sementara itu, korupsi yang merajalela membuat inovasi sulit berkembang karena sumber daya dialihkan untuk kepentingan pribadi.

Presiden negeri ini pernah memerintahkan agar pencegahan korupsi tidak hanya seremonial. Namun, perintah ini sering kali hanya jadi bahan pidato. Di lapangan, kegiatan seremonial justru semakin marak. Bupati dan wali kota berlomba-lomba menggelar acara dengan alasan membangun citra. Padahal, masyarakat lebih butuh jalan yang bagus daripada panggung yang megah. 

Generasi yang Terjebak

Generasi muda Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang serba seremonial. Mereka diajari untuk menghafal pidato daripada berpikir kritis. Mereka dilatih untuk mengikuti acara daripada menciptakan inovasi. Akibatnya, banyak anak muda yang lebih tertarik menjadi influencer daripada ilmuwan. 

Pendidikan juga tidak luput dari penyakit ini. Sekolah dan universitas lebih fokus pada akreditasi dan ranking daripada kualitas pembelajaran. Dosen dan guru lebih sibuk mengurus administrasi daripada mengembangkan metode pengajaran. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan tidak siap menghadapi tantangan zaman. 

Harapan di Tengah Keputusasaan

Meski situasi tampak suram, bukan berarti tidak ada harapan. Beberapa daerah mulai menunjukkan perubahan. Yogyakarta, misalnya, pernah dinobatkan sebagai kota dengan pelayanan publik paling bersih dari korupsi. Kuncinya sederhana: transparansi, kepemimpinan yang kuat, dan dukungan publik. 

Inovasi juga mulai tumbuh di kalangan masyarakat. Startup lokal mulai bermunculan, meski masih banyak yang gagal. Peneliti muda mulai berani mencoba hal baru, meski dengan dana terbatas. Gerakan anti-korupsi juga semakin kuat, meski masih banyak yang bersifat seremonial. 

Jalan Keluar yang Tidak Mudah

Mengubah budaya seremonial dan memberantas korupsi bukan pekerjaan mudah. Diperlukan reformasi struktural yang komprehensif. Tujuan institusional yang tidak realistis harus direformasi. Mekanisme kelembagaan harus diperkuat. Akses terhadap sarana pencapaian yang sah harus diperluas. 

Anggaran seremonial harus dikurangi secara signifikan. Dana yang dihemat dapat dialihkan untuk program-program prioritas yang lebih berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Pengurangan anggaran seremonial juga akan mendorong pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang lebih inovatif dan efisien. 

Pendidikan juga harus direformasi. Sistem pendidikan yang hanya fokus pada nilai dan ranking harus diganti dengan sistem yang mendorong kreativitas dan inovasi. Guru dan dosen harus diberi kebebasan untuk mengembangkan metode pengajaran yang inovatif. 

Penutup yang Bukan Kesimpulan

Indonesia memang negeri seremoni. Tapi bukan berarti harus selamanya demikian. Inovasi dan anti-korupsi bukan sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa inovasi, Indonesia akan terus tertinggal. Tanpa pemberantasan korupsi, Indonesia akan terus terpuruk. 

Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dari seremoni. Matikan mikrofon, turunkan spanduk, dan mulai bekerja serius. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan Indonesia bukan lagi acara yang megah, melainkan tindakan yang nyata.