Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Panggung Sandiwara Gelandangan Politik

Hery Purnobasuki 
Guru Besar FST Universitas Airlangga 
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga

Fenomena politisi yang mendadak vokal setelah terlempar dari lingkaran kekuasaan kerap memicu kegaduhan publik melalui retorika yang sensasional. Manuver para figur yang kehilangan jabatan ini memperlihatkan dinamika pencarian panggung demi mempertahankan relevansi politik di ruang publik.

Panggung Sandiwara Para Mantan

Dunia politik negeri ini memang tidak pernah kehabisan naskah drama komedi satir. Panggung kekuasaan selalu menyajikan babak-babak menarik, terutama saat lampu sorot berpindah dan beberapa pemeran utama mendadak menjadi figuran. Ketika kursi empuk di gedung kementerian atau lembaga tinggi negara sudah diisi oleh penghuni baru, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang tampak kebingungan mencari arah pulang. Mereka inilah yang sering dijuluki sebagai gelandangan politik, sosok-sosok yang dulunya bergelimang fasilitas protokoler, tetapi kini harus rela berdesak-desakan di trotoar wacana publik demi sekadar dilirik kamera.

Perubahan status ini rupanya membawa dampak psikologis yang cukup dahsyat bagi sebagian mantan pejabat. Selama bertahun-tahun terbiasa diiringi sirine pengawal, dibukakan pintu mobil, dan disambut dengan anggukan hormat para staf, kehilangan semua itu tentu memicu sindrom keterkejutan pascakekuasaan. Hari-hari yang biasanya diisi dengan rapat kabinet dan penandatanganan dokumen penting mendadak berubah menjadi sunyi senyap. Ponsel pintar yang biasanya tak henti berdering mendadak sepi dari pesan para penjilat dan pemburu proyek. Rasa sepi inilah yang kerap menjadi pemicu lahirnya manuver-manuver akrobatik di ruang publik.

Bagi sebagian orang, masa pensiun dari kabinet mungkin adalah waktu terbaik untuk menimang cucu, berkebun hidroponik, atau setidaknya menulis memoar biografi yang diperhalus di sana-sini. Namun, bagi para pecandu sorot lampu, ketiadaan panggung adalah sebuah kiamat eksistensial. Menjadi orang biasa yang antre membeli kopi tanpa pengawalan terasa seperti hukuman sosial yang teramat berat. Akhirnya, jalan pintas diambil dengan merancang panggung darurat di berbagai kanal media sosial, siniar populer, hingga forum diskusi yang haus akan narasi kontroversial.

Amnesia Sejarah Mendadak Sembuh

Hal yang paling menggelitik dari tingkah para elit non-aktif ini adalah transformasi karakter mereka yang begitu cepat, melebihi pergantian kostum di panggung teater. Tokoh yang ketika masih menjabat terkenal sangat pendiam, gemar mangkir saat dimintai pertanggungjawaban kebijakan, dan selalu membela program kerja mati-matian, mendadak berubah menjadi pahlawan rakyat yang paling kritis. Lidah mereka yang tadinya kelu dan kaku mendadak fasih mengutip teori keadilan sosial, hak asasi manusia, hingga penderitaan wong cilik.

Masyarakat tentu tidak buta dan tuli terhadap rekam jejak digital yang masih tersimpan rapi. Publik masih mengingat jelas bagaimana kebijakan-kebijakan yang kini mereka kritik habis-habisan sebenarnya merupakan produk yang mereka ketok palu sendiri beberapa tahun lalu. Saat memegang kendali anggaran dan kekuasaan, mereka bungkam seribu bahasa ketika rakyat menjerit akibat kenaikan harga atau ketidakadilan hukum. Namun, begitu surat keputusan pemberhentian diterbitkan, kesadaran moral mereka mendadak meledak-ledak seolah baru saja mendapat pencerahan spiritual di tengah malam.

Amnesia selektif ini menjadi bumbu utama dalam setiap pernyataan pers yang mereka rilis ke publik. Mereka berbicara tentang moralitas pemerintahan seakan-akan mereka adalah malaikat pengawas yang baru turun dari langit, bukan mantan nakhoda yang turut andil membawa kapal oleng. Ironi ini begitu telanjang dipertontonkan, tetapi para pelakunya tetap memasang wajah tanpa dosa sambil menikmati setiap detik perhatian yang diberikan oleh warganet yang mudah terpancing emosi.

Menjual Keresahan di Pasar Opini

Ketiadaan akses ke kebijakan strategis membuat para gelandangan politik ini harus memutar otak agar tetap laku di pasar opini. Cara paling murah dan cepat untuk mendulang perhatian bukanlah dengan menawarkan konsep pembangunan yang matang dan berbasis data, melainkan dengan menjual keresahan. Mereka mulai memproduksi narasi-narasi kiamat, pesimisme ekonomi, hingga ramalan kehancuran bangsa yang dibumbui dengan data yang dipelintir sedemikian rupa agar terdengar mengerikan di telinga masyarakat awam.

Pernyataan yang dilontarkan sering kali sengaja dibuat menggantung dan provokatif tanpa ada tanggung jawab moral untuk memberikan solusi nyata. Mereka melempar isu bahwa kas negara sudah habis, sistem pertahanan rapuh, atau perpecahan sosial tinggal menghitung hari. Ujaran semacam ini ibarat melempar korek api yang menyala ke tumpukan jerami kering di tengah masyarakat yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi sehari-hari. Keresahan publik kemudian diolah menjadi mata uang politik untuk menunjukkan bahwa negara sedang dalam bahaya besar tanpa kehadiran mereka di tampuk kekuasaan.

Di era digital, algoritma media sosial yang rakus terhadap konflik menjadi sekutu terbaik bagi para pemburu panggung ini. Semakin bising dan meresahkan sebuah pernyataan, semakin besar pula peluang cuplikan video mereka menjadi viral di linimasa. Mereka tidak lagi peduli apakah ucapan tersebut membuat pedagang pasar cemas, investor menahan modal, atau masyarakat bawah saling curiga. Bagi mereka, metrik keberhasilan bukanlah terciptanya ketenangan sosial, melainkan angka penonton yang melonjak dan undangan wawancara eksklusif di stasiun televisi swasta.

Seni Mengintip Pintu Koalisi

Jika ditelisik lebih dalam, manuver yang tampak seperti perjuangan membela rakyat ini sebenarnya memiliki motif yang sangat pragmatis. Kritik pedas yang mereka layangkan bukanlah wujud dari oposisi yang sehat dan berprinsip, melainkan sebuah bentuk negosiasi terbuka kepada penguasa saat ini. Mereka sedang memamerkan kapasitas daya rusak opini yang mereka miliki, dengan harapan lingkaran kekuasaan akan merasa terganggu lalu memutuskan untuk merangkul mereka kembali demi menjaga stabilitas politik.

Ini adalah seni mengintip celah pintu koalisi dari balik jendela luar gedung pemerintahan. Dengan terus membuat kegaduhan di halaman depan, mereka berharap tuan rumah akan membukakan pintu dan menyodorkan kursi empuk baru, entah itu berupa jabatan komisaris badan usaha milik negara, penasihat khusus, atau posisi duta besar di negara sahabat. Begitu tawaran akomodasi politik itu mendarat di meja, narasi-narasi kritis yang tadinya menyala-nyala biasanya akan padam seketika, berganti dengan senyum sumringah di depan kamera sambil memuji stabilitas kepemimpinan nasional.

Pola transaksi kekuasaan semacam ini sudah berulang kali terjadi dan menjadi tontonan yang membosankan bagi publik yang kritis. Sangat disayangkan bahwa keresahan masyarakat, kekhawatiran ibu-ibu terhadap harga sembako, dan masa depan generasi muda kerap dijadikan sandera dalam permainan tawar-menawar kepentingan elit. Panggung politik pun terdegradasi menjadi sekadar pasar loak tempat para mantan pejabat menjajakan pengaruh lamanya kepada penawar tertinggi.

Mengobati Dahaga Sorot Kamera

Fenomena gelandangan politik yang gemar melempar racun keresahan ini pada akhirnya harus disikapi dengan kedewasaan berpikir oleh seluruh lapisan masyarakat. Publik perlu mulai menyaring kebisingan wacana dengan melihat rekam jejak, bukan sekadar kelantangan suara di depan mikrofon. Ketika ada mantan pejabat yang tiba-tiba berteriak lantang tentang kebobrokan sistem, masyarakat perlu bertanya balik mengenai apa saja yang telah ia perbuat saat masih memiliki wewenang penuh untuk memperbaikinya.

Menolak untuk terombang-ambing oleh narasi provokatif adalah cara paling ampuh untuk mematikan panggung buatan para elit yang sedang haus perhatian ini. Jika publik berhenti membagikan potongan video sensasional mereka, berhenti berdebat kusir di kolom komentar, dan mengabaikan ramalan-ramalan kiamat yang tidak berdasar, maka panggung darurat itu akan runtuh dengan sendirinya. Tanpa adanya penonton yang tepuk tangan atau marah-marah, sandiwara politik murahan ini tidak akan lagi memiliki nilai jual.

Biarkanlah para mantan elit ini belajar menerima kenyataan bahwa kekuasaan itu bersifat sementara dan panggung sejarah selalu bergerak maju mencari aktor-aktor baru yang lebih segar. Menikmati masa purnatugas dengan anggun, berkontribusi nyata di jalur sunyi tanpa publisitas berlebihan, atau sekadar menikmati secangkir kopi di teras rumah jauh lebih terhormat daripada terus-menerus mengemis perhatian dengan cara menakut-nakuti rakyat sendiri di ruang publik.