JAKARTA – Munculnya kembali kasus Virus Nipah di India memicu peringatan dari para ahli kesehatan di tanah air. Walaupun saat ini belum ada laporan infeksi pada manusia di Indonesia, keberadaan kelelawar buah sebagai pembawa alami virus ini di wilayah nusantara menuntut kesiagaan yang serius.
Pakar kesehatan anak dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. dr. Dominicus Husada, mengingatkan bahwa Virus Nipah memiliki tingkat fatalitas yang sangat mengkhawatirkan. Dibandingkan dengan COVID-19 yang memiliki angka kematian sekitar 1 persen, Virus Nipah jauh lebih mematikan dengan angka kematian mencapai 40 hingga 75 persen.
"Kita tidak boleh meremehkan potensi bahayanya. Karakteristik virus ini sangat fatal, terutama karena hingga saat ini belum ditemukan obat spesifik maupun vaksinnya," jelas Prof. Dominicus dalam sebuah diskusi daring, Kamis (29/1/2026).
Para ahli menilai bahwa Virus Nipah cenderung sulit berkembang menjadi pandemi global seperti COVID-19. Hal ini dikarenakan mekanisme penularannya yang memerlukan kontak langsung dengan cairan tubuh penderita (seperti air liur atau urine), bukan melalui droplet pernapasan yang menyebar dengan cepat di udara.
Namun, rendahnya skala pandemi bukan berarti ancamannya bisa diabaikan. Virus ini memiliki potensi besar memicu wabah lokal (outbreak) di suatu wilayah, terutama jika masyarakat memiliki interaksi yang dekat dengan hewan liar.
Anak-Anak Menjadi Kelompok Paling Rentan
Sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna membuat anak-anak menjadi kelompok yang paling berisiko tinggi jika terpapar. Semakin muda usia penderita, risiko dampak fatal hingga kematian akan semakin meningkat. Selain itu, masa pemulihan bagi mereka yang selamat seringkali diiringi dengan gangguan neurologis jangka panjang.
Masyarakat diimbau untuk lebih teliti dalam menjaga kebersihan makanan dan interaksi dengan hewan:
a. Hindari Buah Bekas Gigitan: Jangan mengonsumsi buah-buahan yang terlihat ada bekas gigitan kelelawar.
b. Cuci dan Kupas Buah: Pastikan buah dicuci bersih dan dikupas kulitnya sebelum dimakan.
c. Masak Nira/Air Aren: Bagi yang sering mengonsumsi nira langsung dari pohon, wajib memasaknya hingga mendidih untuk membunuh virus yang mungkin menempel dari air liur kelelawar.
d. Gunakan APD: Para peternak babi atau kuda disarankan menggunakan alat pelindung diri saat berinteraksi dengan hewan yang menunjukkan gejala sakit.
Meskipun saat ini Indonesia masih dalam status aman dari kasus manusia, mitigasi dini adalah kunci utama agar potensi wabah lokal tidak berubah menjadi krisis kesehatan nasional.
