JAKARTA – Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mencapai titik didih. Kedua negara kini terjebak dalam retorika perang yang kian memanas, memicu kekhawatiran global akan pecahnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Pentagon berada dalam posisi siaga penuh untuk menjalankan perintah Presiden Donald Trump. Fokus utama Washington saat ini adalah memastikan Teheran tidak memiliki akses terhadap kapabilitas senjata nuklir.
"Militer kami siap melakukan tindakan apa pun sesuai instruksi Presiden demi mencegah Iran menjadi kekuatan nuklir," ujar Hegseth, Kamis (29/1/2026).
Keseriusan ancaman AS diperkuat dengan kehadiran Gugus Tempur Angkatan Laut yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln di area Teluk Persia. Armada besar ini membawa jet tempur canggih F-35 Lightning II dan ribuan marinir, yang diposisikan sebagai instrumen tekanan terhadap rezim Mullah.
Meski demikian, Presiden Donald Trump memberikan sinyal ganda. Di satu sisi ia memamerkan kekuatan militer, namun di sisi lain ia menyatakan masih membuka celah komunikasi.
"Kami memiliki armada yang sangat kuat di sana, dan akan jauh lebih baik jika kekuatan itu tidak perlu digunakan. Harapan kami Iran bersedia kembali ke meja perundingan untuk kesepakatan yang adil," tutur Trump.
Iran Siapkan Serangan Balasan dengan Ribuan Drone
Teheran tidak tinggal diam menghadapi tekanan tersebut. Sebagai bentuk unjuk kekuatan, militer Iran (AB) dan Garda Revolusi (IRGC) dilaporkan telah memperkuat pertahanan mereka dengan menyiagakan sekitar 1.000 unit drone tempur baru.
Panglima AD Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa strategi drone ini merupakan kunci pertahanan nasional untuk memberikan respons yang "menghancurkan" terhadap setiap bentuk agresi. Drone-drone tersebut dirancang untuk serangan presisi dan pengintaian di wilayah strategis.
Hingga saat ini, kondisi di perairan Teluk masih sangat labil. Baik Washington maupun Teheran tampak masih melakukan aksi "gertak sambal" sambil menakar risiko serta keuntungan jika perang benar-benar pecah.
