KOTA BIMA — Insiden berdarah di lapangan hijau memicu reaksi keras dari kalangan aktivis dan akademisi hukum di Kota Bima. Puluhan massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Pemerhati Hukum (IMPERIUM) menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Komando (Mako) Polres Bima Kota, Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Monggonao, Kecamatan Mpunda, Kamis (11/6/2026) pagi.
Aksi yang dikoordinir oleh Al Faruq, S.P., ini menyoroti merosotnya sportivitas serta lemahnya jaminan sistem keamanan publik dalam penyelenggaraan ajang olahraga daerah.
Soroti Kekerasan Terhadap Pengadil Lapangan
Dalam orasinya di depan gerbang mapolres, Al Faruq mengecam keras tindakan premanisme berupa penganiayaan fisik yang menimpa seorang wasit saat memimpin pertandingan di ajang Walikota Bima Cup. Menurutnya, pembiaran terhadap kasus ini akan menjadi preseden buruk bagi iklim olahraga dan penegakan hukum di wilayah Bima.
"Kami mengutuk keras segala bentuk kekerasan di dalam stadion maupun lapangan terbuka. Wasit adalah pengadil tertinggi di lapangan yang hak dan keselamatannya dilindungi undang-undang. Kami mendesak Satreskrim Polres Bima Kota untuk bergerak cepat memburu dan menyeret aktor utama penganiayaan ini ke sel tahanan," tegas Al Faruq di hadapan aparat kepolisian.
Selain menuntut pertanggungjawaban pidana perorangan, aliansi IMPERIUM dinilai melihat adanya kelalaian sistemik dari pihak penyelenggara. Penyelenggaraan turnamen sepak bola yang berlokasi di Lapangan Mako Brimob tersebut dianggap gagal dalam memetakan potensi konflik dan memitigasi risiko kerusuhan penonton maupun pemain.
Atas dasar pertimbangan keamanan publik yang tidak kondusif, massa aksi melayangkan tiga tuntutan krusial kepada otoritas terkait:
a. Mendesak jajaran Polres Bima Kota untuk segera melakukan penangkapan terhadap seluruh oknum pelaku pemukulan wasit tanpa pandang bulu.
b. Meminta penyidik Satreskrim mempercepat proses hukum dan menaikkan status perkara ke tahap penyidikan demi kepastian hukum bagi korban.
c. Menuntut Panitia Besar Turnamen Walikota Bima Cup untuk segera menghentikan sisa seluruh jadwal pertandingan guna menghindari potensi bentrokan susulan yang lebih masif.
Massa menegaskan bahwa ajang olahraga yang dibiayai atau mengatasnamakan fasilitas publik tidak boleh bertransformasi menjadi arena pertumpahan darah akibat lemahnya koordinasi pengamanan.
Aksi unjuk rasa berjalan di bawah kawalan ketat personel Polres Bima Kota. Perwakilan demonstran dilaporkan tengah bernegosiasi dengan pihak kedinasan reskrim guna memantau perkembangan berkas laporan kasus penganiayaan tersebut. Massa membubarkan diri secara teratur dengan pengawasan situasi yang kondusif.
