MATARAM — Insiden mengejutkan menimpa civitas akademika SMAN 7 Mataram yang berlokasi di Jalan Adi Sucipto, Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Atap pada bagian ruang Kelas XI A2 dan Kelas XI A3 dilaporkan ambruk secara mendadak pada Selasa (19/5/2026) siang sekitar pukul 12.15 WITA.
Peristiwa tersebut mengakibatkan empat orang siswa mengalami luka-luka dan trauma akibat tertimpa material plafon serta kayu atap yang runtuh.
Berdasarkan keterangan salah satu korban selamat, Kadek Yata Wirasana, peristiwa nahas ini terjadi saat situasi sekolah sedang dalam jam istirahat pelaksanaan shalat Dzuhur. Sebagian besar siswa muslim tengah berada di mushola sekolah yang terletak di sebelah selatan gedung kelas.
Saat itu, di dalam ruang Kelas XI A2 hanya menyisakan lima orang pelajar. Ketegangan dimulai ketika terdengar suara gemuruh yang cukup keras dari ruang sebelah (Kelas XI A3)—sebuah ruangan kelas yang kondisinya memang sudah lama rusak dan dikosongkan pihak sekolah.
"Suara gemuruhnya terdengar makin cepat dan bertambah keras," ungkap Kadek dalam kesaksiannya.
Mendengar indikasi bahaya tersebut, salah seorang siswi bernama Ivana Carisca Putri yang kebetulan berdiri di dekat pintu langsung bergegas lari keluar menyelamatkan diri.
Siswa Berusaha Berlindung di Bawah Meja
Namun nasib berbeda dialami empat siswa lainnya yang masih terjebak di dalam ruangan. Sebelum sempat meloloskan diri ke luar pintu, struktur atap Kelas XI A2 keburu ambruk secara masif. Dalam kondisi panik, para siswa spontan mengambil posisi jongkok dan berlindung di sekitar meja kelas.
Kadek Yata Wirasana berusaha merangkak ke bawah meja, sementara rekannya, Jonathan Anders, hanya sempat jongkok di bagian tengah ruangan. Dua siswi lainnya, I Gusti Ayu Sanjiwani dan Aura Beauty Angelia, yang saat itu berada di area belakang kelas, juga langsung merunduk di dekat meja untuk menghindari reruntuhan.
Mendengar suara dentuman runtuhnya atap, para siswa lain yang berada di luar langsung berhamburan menuju tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan evakuasi darurat. Keempat korban langsung dilarikan ke ruang UKS sekolah sebelum akhirnya dijemput oleh armada ambulans menuju Puskesmas Pejeruk yang terletak di belakang area sekolah.
Dokter jaga Puskesmas Pejeruk, dr. Nanda Retno W., segera melakukan pemeriksaan medis dan observasi intensif kepada para korban.
Setelah dipastikan kondisinya stabil, tiga korban luka ringan yaitu Kadek Yata, Jonathan, dan Aura Beauty langsung diperbolehkan rawat jalan dan pulang ke rumah masing-masing. Sementara itu, korban I Gusti Ayu Sanjiwani hingga Selasa sore dilaporkan masih harus menjalani observasi di puskesmas karena kondisi psikologisnya belum stabil akibat shock berat.
Kondisi Bangunan Lapuk
Pasca-kejadian, kondisi ruang Kelas XI A2 dan XI A3 dilaporkan mengalami kerusakan struktural yang sangat parah dan dipastikan tidak dapat digunakan lagi untuk proses kegiatan belajar mengajar.
Hasil analisis awal di lapangan menunjukkan bahwa ambruknya fasilitas pendidikan ini murni disebabkan oleh kondisi kerangka atap bangunan yang sudah lapuk dimakan usia serta tidak layak pakai, sehingga tidak mampu lagi menahan beban material di atasnya. Pihak otoritas terkait diharapkan segera melakukan audit menyeluruh terhadap kelaikan bangunan sekolah lainnya guna mengantisipasi kejadian serupa.
