LOMBOK BARAT — Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui sektor pendidikan agama terus diperkuat. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Dr. Ir. Dadan Hindayana, bersama Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, secara resmi meluncurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gelogor Kediri 001 di Pondok Pesantren Nurul Hakim, Lombok Barat, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan yang dihadiri oleh Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini dan Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri ini menjadi tonggak penting integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam ekosistem pesantren di Nusa Tenggara Barat.
Pimpinan Yayasan Nurul Hakim, TGH. Muharrar Mahfudz, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas kepercayaan pemerintah menjadikan pesantren sebagai sasaran utama program. Mengingat jumlah santri yang mencapai 5.208 orang, kehadiran SPPG dinilai sangat meringankan beban wali santri.
"Kondisi riil di lapangan, biaya makan santri kami hanya Rp4.000 per porsi. Meski sangat rendah, tingkat tunggakan wali santri masih mencapai 40 persen karena kondisi ekonomi. Program MBG dari Presiden Prabowo ini sangat tepat sasaran dan menjadi solusi nyata bagi kesejahteraan santri," ungkap TGH. Muharrar.
Menghidupkan Ekosistem Ekonomi Pesantren
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, melaporkan bahwa pihaknya telah berhasil mengadvokasi alokasi 13 titik SPPG khusus untuk lingkungan pesantren di NTB. Titik-titik tersebut kini tersebar di Lombok Barat, Mataram, Lombok Tengah, hingga Lombok Timur.
"Ini bukan sekadar soal makanan, tapi soal kedaulatan ekonomi. Di titik-titik tersebut, pasokan bahan baku disuplai sendiri oleh pesantren, pekerjanya adalah jamaah, bahkan sopir distribusinya pun dari kalangan santri atau jamaah. Ada uang yang berputar dan menghidupkan ekosistem di dalam pesantren," jelas Lalu Iqbal.
Sementara itu, Kepala BGN RI Dadan Hindayana memaparkan filosofi di balik program MBG. Ia menekankan pentingnya intervensi gizi pada dua fase krusial: 1.000 hari pertama kehidupan dan masa pertumbuhan usia 8 hingga 18 tahun.
"Gizi seimbang adalah 'tanah subur' bagi potensi genetik manusia. Presiden Prabowo ingin memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang mengalami kendala tumbuh kembang atau stunting. Kita ingin memperbaiki kualitas generasi hanya dalam waktu satu generasi, seperti yang sukses dilakukan di Jepang," tegas Dadan.
Dadan menambahkan, tantangan besar Indonesia adalah fakta bahwa 60 persen anak belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang. "Program ini hadir untuk memutus rantai tersebut. Kita mempersiapkan anak-anak yang lahir hari ini agar 20 tahun lagi mereka siap menjadi pemimpin dan tenaga kerja produktif yang mampu bersaing secara global," pungkasnya.
