Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Angka Stunting KSB Turun Drastis ke 7,35 Persen, Terendah Ketiga di NTB

Koran Online

TALIWANG - Upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam menekan angka stunting membuahkan hasil signifikan. Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di KSB berhasil ditekan hingga mencapai 7,35%, menempatkan KSB di posisi tiga besar daerah dengan capaian terbaik di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelumnya, angka stunting KSB tercatat sebesar 13,5% pada 2024 dan turun menjadi 11,8% pada data umum 2025.

Pencapaian ini menjadi fokus utama dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Tingkat KSB Tahun 2025 yang dipimpin oleh Wakil Bupati Hj. Hanifah Musafirin di Aula Hanipati Resto, Taliwang, pada 4 November 2025.

Strategi Lintas Sektor dan Target di Bawah 10 Persen

Kepala Dinas P2KBP3A KSB, Agus Purnawan, menyatakan Rakor ini bertujuan mengevaluasi capaian, menyusun strategi lintas sektor menjelang akhir tahun, dan memperkuat sinergi dari tingkat daerah hingga desa.

"Angka stunting di Kab. Sumbawa Barat menurun dari 13,5% (2024) menjadi 11,8% (2025). Seluruh desa lokus telah melaksanakan rembuk stunting," ujar Agus. Ia berharap komitmen bersama dapat mencapai target prevalensi di bawah 10% pada tahun 2026.

Wakil Bupati Hj. Hanifah Musafirin menegaskan bahwa penurunan stunting adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya sektor kesehatan. Ia meminta semua OPD, Camat, dan Kepala Desa menjadi motor penggerak yang memperkuat intervensi gizi spesifik dan sensitif berbasis data keluarga berisiko.

Faktor Pemicu dan Peran Rumah Sakit

Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof, menjelaskan bahwa keberhasilan KSB menekan stunting hingga 7,35% mencerminkan efektivitas program di tingkat desa. Namun, ia mencatat bahwa kasus masih terkonsentrasi di wilayah selatan dan barat daya, seperti Desa Talonang Baru, Tatar, dan Senayan, yang dipengaruhi oleh faktor akses layanan dan sanitasi dasar.

Di sisi lain, capaian penurunan signifikan terlihat di Kecamatan Taliwang, Brang Ene, dan Seteluk.

Rumah Sakit Asy Syifa Taliwang juga menunjukkan peran kuat sebagai mitra strategis. Laporan bulanan RS per Agustus 2025 mencatat:

a. 124 balita berisiko stunting mendapat rujukan dan intervensi.

b. 82 anak telah menjalani perawatan dan pendampingan gizi berkelanjutan

c. RS Asy Syifa melaksanakan Edukasi Gizi Seimbang dan Kelas Ibu Balita yang diikuti lebih dari 350 peserta.

Berkat kolaborasi terpadu ini, jumlah kasus rujukan stunting menurun sekitar 18% dibanding awal tahun, memperkuat optimisme mewujudkan KSB bebas stunting menuju visi KSB Maju Luar Biasa.